Puluhan Wartawan dan Masyarakat Peduli Wartawan Unjuk Rasa di Mapolresta Deli Serdang

TVPOLRINews.com | DELI SERDANG – Puluhan wartawan dan masyarakat peduli wartawan melakukan aksi unjuk rasa damai di Mapolresta Deli Serdang, Rabu (20/11/2019). Aksi unjuk rasa ini sebagai bentuk solidaritas menolak dugaan kriminalisasi pers pasca dua wartawan media online Hulman Situmorang wartawan online medanbicara.com dan Fani Ardana wartawan online metro24jam.com yang diperiksa Reskrim Polresta Deli Serdang terkait pemberitaan isteri BS terjatuh usai acara rapat paripurna pelantikan dan pengambilan sumpah anggota DPRD Deli Serdang periode 2019-2024 pada 14 Oktober 2019 lalu.

Sebelum aksi demo dimulai, puluhan wartawan dan masyarakat terlebih dulu berkumpul didepan Mapolresta Deli Serdang. Pita hitam pun diikatkan pada tangan atau lengan untuk mengantisipasi penyusup. Kordinator Komunitas Masyarakat Tolak Kriminalisasi Wartawan-Pers Kabupaten Deli Serdang, Batara Sidik Tampubolon dalam pernyataan sikap dan tuntutan mempertanyakan kepada Polresta Deli Serdang yang menerima laporan yang sifatnya konseling dengan melakukan pemanggilan kepada 2 jurnalis, terkait pemberitaan istri oknum anggota DPRD Deli Serdang yang terkesan dipaksakan dan dikebut proses laporannya dengan melakukan pemanggilan terhadap sejumlah saksi dari jurnalis dan staf DPRD Deli Serdang.

Hosting Unlimited Indonesia

Mempertanyakan sikap Polresta Deli Serdang yang menerima laporan konseling oknum istri anggota DPRD Deli Serdang terkait pemberitaan dengan tidak mempertimbangkan untuk mengarahkan penyelesaian kasusnya dengan berpedoman kepada UU Pers Nomor 40 tahun 1999 melalui Hak Jawab. “Meminta kepada Polresta Deli Serdang untuk memahami dan berpedoman kepada MoU atau nota kesepahaman antara Dewan Pers dan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor : 2/DP/MoU/II/2017 – Nomor : B/15/II/2017 tentang kordinasi dalam perlindungan kemerdekaan pers dan penegakan hukum terkait penyalahgunaan profesi wartawan. Dalam pasal 4 ayat (2) berbunyi Pihak kedua (dalam hal ini kepolisian) apabila menerima pengaduan dugaan perselisihan/sengketa termasuk surat pembaca atau opini/kolom antara wartawan/media dengan masyarakat akan mengarahkan yang berselisih/bersengketa dan/atau pengadu melakukan langkah-langkah secara bertahap dan berjenjang mulai dari menggunakan hak jawab, hak koreksi, pengaduan ke pihak kesatu (dewan pers) maupun proses perdata,” tegas Batara Tampubolon.

Menambahi pernyataan sikap itu, Indra Gunawan Sipahutar wartawan Tribun Medan menegaskan tidak semestinya Polresta Deli Serdang menindaklanjuti laporan konseling yang berkaitan dengan pemberitaan. Karena hal itu merupakan Produk Jurnalistik sehingga harus diselesaikan sesuai UU Nomor 40 tahun 1999 tentang pers dan nota kesepahaman antara Dewan Pers dengan Kepolisian. “Penyelesaian pemberitaan bukan diselesaikan dengan KUH Pidana tapi UU RI Nomor 40 tahun 1999 tentang pokok pers,” tegas Indra Sipahutar.

Agar tidak menghambat aktivis masyarakat yang memiliki urusan ke Polresta Deli Serdang, massa dipersilahkan untuk berkumpul dan menyampaikan orasi dihalaman Mapolresta Deli Serdang. Wakapolresta Deli Serdang Kompol Hendrawan SIk, didampingi Kasi Propam Iptu Natanail Sitepu, Kaur Mintu Reskrim Ipda OJ Samosir, Paur Humas Iptu Masfan Naibaho menjumpai massa.

Selain menyampaikan dugaan kriminalisasi pers, massa juga menyampaikan jika hingga saat ini masih ada laporan pengaduan korban DP dengan terlapor BS kasus penganiayaan yang sudah hampir 3 tahun. Menjawab massa, Kompol Hendrawan S.I.K berjanji jika informasi akan ditindaklanjuti.

“Namanya ada pengaduan dari masyarakat wajib menerima dan nanti akan digelar laporan konseling itu dengan memanggil penyidik untuk digelar. Yang penting kita Profesional dalam menangani laporan konseling. Ini penyelidikan untuk mengetahui secara pasti terkait laporan konseling isteri dari BS,” pungkasnya.

Sementara itu, Laporan Pengaduan kasus pengancaman dan penganiayaan korban DP (27) warga Kampung Baru, Desa Pasar Melintang Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang dengan terlapor BS (52) warga Jalan Tomuan Kelurahan Cemara Kecamatan Lubuk Pakam, hingga kini laporan pengaduan nomor LP/18/I/2017/SU/RES DS tanggal 7 Januari 2017 masih dalam proses penanganan Polresta Deli Serdang yang hampir 3 tahun lamanya.

Dilaporkannya BS alias oppung ke Polres Deli Serdang, awalnya DP dengan BS kerjasama agar DP mengarahkan para juru tulis togel untuk menyetor omset penjualan kepada BS alias Oppung dengan perjanjian BS memberikan komisi 27 persen kepada DP dan terserah DP mau memberikan komisi kepada jurtul. Hitungan persenan pun dilakukan sekali dalam sepekan. Selain persenan omset, DP pun akan diberikan persenan jika bandar menang.

Selanjutnya DP mencari para jurtul dan memberikan komisi 20 persen dari omset kepada jurtul. Para jurtul togel yang direkrut DP pun menyetor kepada BS. “Total omset dari jurtul ku berkisar Rp 40 juta,” sebutnya.

Maka sesuai perjanjian, DP pun meminta persenan dari omset yang disetorkan jurtulnya kepada BS. Namun isteri BS alias Oppung menyatakan kepada DP agar mengambil persenan omset pekan depannya saja. Mendengar hal itu DP menjawab jika ia, isteri dan anaknya perlu juga makan dan meminta uang Rp 5 juta dulu. Mendengar ucapan DP itu BS
alias Oppung memberikannya dan menyatakan agar DP berurusan sama BS alias Oppung saja.

Pekan berikutnya, DP kembali meminta persenan dari omset tapi isteri BS alias Oppung menyatakan jika persenan DP sudah tidak ada lagi. Mendengar hal itu, BS alias Oppung menengahinya dan menyatakan kepada DP agar tidak mengungkit itu lagi dan jangan ribut. BS pun menyatakan agar DP berhubungan dengan BS alias Oppung saja.

“Kalau ku hitung jumlah persenan dari omset dan komisi dari kemenangan sudah berkisar Rp 20 juta,” ujar DP.

Karena hitungan persenan dari omset seperti yang dijanjikan tidak jelas, maka DP beralih dan menyetor omset ke bandar togel lain yang sekarang sudah tutup. Beralihnya DP ke bandar judi togel lain mengakibatkan omset BS alias Oppung menurun sehingga BS bersama isterinya dan dua orang lainnya mendatangi DP ke rumahnya.

“Saat aku terjatuh didorong BS alias Oppung itu, HP juga jatuh dan diambil isteri BS alias Oppung. Lalu aku mendatangi BS alias Oppung kerumahnya namun aku diancam dengan pisau pada bagian leher ku,” sebut DP. (LG)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *