Neuroleadership : Indonesia Menuju Smart Society X.0

TVPOLRINews.com | Jakarta – Neuroscience dan neuroleadership saat ini lagi ramai menjadi bahan pembelajaran. Mimbar-mimbar akademik, baik secara formal atau informal banyak yang membahasnya.  Subjek ini merupakan salah satu ilmu kontemporer terapan tentang optimalisasi fungsi otak di bidang kepemimpinan. Termasuk banyak mempelajari keterkaitan perilaku dan karakter seseorang dikaitkan dengan cara kerja otaknya.

Pemerhati Neurosains Indonesia Dede Farhan Aulawi ketika dihubungi melalui sambungan seluler, Senin (9/12) di ruang kerjanya  mengatakan bahwa neurosains saat ini menjadi ilmu terapan di berbagai bidang yang sangat menarik, terutama dikaitkan dengan kepemimpinan yang melahirkan apa yang disebut neuroleadership. Bidang ini mengoptimasi potensi otak dalam ranah kepemimpinan sehingga  menghadirkan semangat baru untuk mengeksplorasi dan terus mencari formulasi paling ideal dalam mengembangkan peradaban manusia berbasis pengetahuan. Khususnya pengetahuan tentang potensi dan kompetensi diri yang berkorelasi dengan kinerja atau performansi holistik seorang manusia, ujar Dede.

Hosting Unlimited Indonesia

Selanjutnya Dede juga menambahkan tentang perlunya merekonstruksi kemampuan membangun sirkuit fungsional yang dapat mengakomodir lahirnya kapasitas baru dalam memaknai eksistensi diri. Dalam bahasa aksiologis implementatif yang lugas, hal tersebut dapat dimaknai sebagai suatu kemampuan yang maujud dalam keahlian mengonstruksi sistem organisasi yang dapat menjamin terciptanya wahana prokreasi kepemimpinan yg berintegritas.

“Pendekatan ini sejalan dengan konsep pak Roy T Amboro yang mengedepankan konsep kewaskitaan sebagai indikator terkini yang dibangun oleh integrasi dari segenap kemampuan eksisting yang dapat dilakukan otak dan pikiran manusia dalam mengakomodir segenap instrumen yang terlibat dalam pengelolaan informasi agar terkanalisasi menjadi data bermakna yang kita kenal sebagai pengetahuan terstruktur,” jelas Dede.

Lapis pengetahuan di tingkat ini adalah fondasi dan sekaligus perancah bagi peluncuran “satelit sudut pandang” yang akan melakukan akusisi data berupa stimulus sensoris multi sumber, sehingga dapat memberikan asupan utuh tak bersudut yang dapat diklasifikasikan sebagai _no edge vision_ atau _ball vision_. Kecerdasan orbital dalam memetakan dan menyatukan secara sinergistik berbagai potongan _puzzle_ ini pada gilirannya akan dapat merubah perspektif dan juga persepsi terhadap suatu kondisi.

Menurut Prof. Taruna, konsep tersebut secara indah terorkestrasi sempurna secara  harmonis dengan komposisi pengetahuan tentang konsep dasar neurosains. Optimasi fungsi dan neurofisiologi menjadi kunci. Pengenalan dan pendalaman tentang proses normal yang terjadi dalam mekanisme neuronal yang menghasilkan berbagai fungsi faali menjadi tahapan pembelajaran yang wajib sekali untuk diketahui. 
Fungsi neurotransmisi yang terdistribusi sampai ke tingkat _molecular biology_ membuka wawasan kita bahwa otak dan berbagai struktur yang terintegrasi di dalamnya adalah perwujud nyata dari suatu sistem kolaborasi yang bertujuan untuk mengkreasi fungsi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.

Dinamika sistem cerdas ini melampaui konsep pintar yang sekedar mereplikasi atau menjalankan kembali program yang telah diinstalasi, melainkan dapat membuka potensi untuk mengembangkan diri nyaris tanpa limitasi. Proses belajar yang dapat mengakuisisi data multi dimensi pada gilirannya dapat diidentifikasi sebagai bagian dari konstruksi super kognisi.

Dr. Tauhid Nur Azhar juga pernah menyampaikan bahwa manusia terus bertransformasi (evolving) sebagai _procreating creature_ yang menciptakan dan membangun peradaban dengan berbagai variabel dan instrumen terkait di dalamnya, termasuk teknologi. Di mana teknologi yang terlibat dalam rangkaian _people, process, dan product_ ini akan menjadi bagian dari dinamika komunal yang membutuhkan cara pandang baru agar dapat secara tepat dan akurat mengambil keputusan yg punya nilai manfaat serta maslahat secara multi derajat, ujar Dede.

Untuk itu pengenalan pola dan mekanisme akan dapat menginisiasi terciptanya ruang untuk berbagai variabel berinteraksi, dan menghasilkan kapasitas serta kompetensi baru yang semakin mengokohkan integritas secara adaptif yang dapat menstimulasi atau mengkatalisa reaksi dari berbagai sensasi dan menghasilkan model baru persepsi. Kondisi tidak ideal dari satu variabel dalam sistem holistik neurosains, tentu dapat menjadi pengungkit terjadinya kegagalan investasi dalam proses pengembangan infrastruktur kecerdasan dan kearifan yang mau tak mau tentu harus melalui proses konstruksi dan rekonstruksi.

Jadi penjelasan para pakar neuroscience di atas, akhirnya  bermuara pada suatu wahana berirama seindah rampak kendang Sunda dan Zapin Melayu pesisir Sumatera. Bahkan Prof.  Taruna telah meracik tentang inisiasi teknologi yang berawal dari implementasi hasil riset berbagai institusi terkemuka di berbagai penjuru negeri tentang optimasi daya nalar sadar manusia melalui serangkai stimulasi yang mengakomodasi plastisitas fungsi dari berbagai struktur otak hingga dapat menghasilkan peningkatan kapasitas sampai di berbagai titik yang dulu diduga sebagai batas.

Kejujuran dan perilaku mulia yang memiliki basis struktur sebagai produsen fungsi kini mulai ditelaah dan dicermati serta dapat dimodulasi. 
Berbekal berbagai hasil riset di beberapa institusi kredibel di manca negara, termasuk US Air Force/USAF dan angkatan udara Australia didapati bukti bahwa beberapa fungsi kognisi dan afeksi dapat distimulasi secara terkendali dan menghasilkan optimasi yang sebelumnya hanya  dianggap sebagai ilusi.

Forum Neuroleadership Indonesia mampu menginisiasi tumbuhnya benih harapan baru tentang kemungkinan untuk memuliakan dan memanusiakan manusia melalui serangkaian kerja keras dan cerdas serta bernas, bermodal hasil riset saintifik dan teknologi yg disinergi melalui semangat kolaborasi.

Cara pandang dan dimensi baru neuroscience inilah yang kelak akan melahirkan _orbital intelligence_ dan mekanisme _a new vision_ yang kita namai _Ball Vision_. Tak pelak peran sains dan teknologi yang dapat memodulasi kapasitas berpikir, bersikap, dan bertindak seorang manusia, baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat global adalah sebuah kebutuhan yg merupakan keniscayaan. Proses menuju terciptanya _smart society X.0_ membutuhkan integrasi segenap potensi hingga energi terkanalisasi dalam konstruksi sinergi, pungkas Dede mengakhiri percakapan. (dfa/mr)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *