MALANGNYA NASIB SEORANG ANAK DIBAWAH UMUR PENDERITA HIV/AIDS

TVPOLRINews.com | Samosir – Nasib malang yang menimpa seorang anak yang masih berusia balita tak terungkapkan  dengan kata-kata. Penyakit yang dideritanya sungguh tak pandang usia (sungguh kasihan).

Seorang anak berusia lima tahun bernama BK (5 tahun) ingin melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Dasar Negeri 2 Nainggolan pada saat pendaftaran anak sekolah (murid baru) pada bulan Juli 2018 lalu. Setelah sebelumnya dia sudah mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) didaerah itu.

Hosting Unlimited Indonesia

Akan tetapi setelah sempat diterima dan mengikuti pendidikan di sekolah itu selama 3 hari, hal yang sangat memilukanpun terjadi setelahnya. 

BK yang masih ingin meneruskan pendidikanya di sekolah tersebut terpaksa harus berhenti tanpa bisa ditawar. 

Alasan yang sangat masuk akal dan harus bisa diterima BK meski dia tidak terima hal itu. Para orang tua murid tempat BK sekolah menolaknya dengan alasan karena takut anaknya juga terkena infeksi HIV /AIDS, ketika para orangtua itu sudah mengetahui kabar bahwa BK menderita penyakit yang mengerikan itu.

Setelah mencoba memberi penjelasan kepada para orangtua itu, Pihak sekolah tempat BK belajar tidak bisa berbuat lebih lagi selain menuruti kemauan mereka karena desakan para orangtua-orangtua siswa tersebut yaitu mengeluarkan BK dari sekolah itu.

Oleh karena itu BK tak bisa mengambil pilihan lain selain harus berhenti mendapat pendidikan dari tempat dia mendaftar sekolah.

Hal itu dibenarkan oleh Kadis Pendidikan Kabupaten Samosir, Rikardo Hutajulu ketika dikonfirmasi media pada hari Jumat, (5-10-3018).

“Pihak sekolah sebenarnya menerima anak itu mendaftar di SDN 2 Nainggolan, bahkan sempat sekolah selama 3 hari. Namun para orangtua keberatan dan menyerbu kepala sekolah nya untuk mendesak si anak tersebut dikeluarkan dari sekolah tersebut,” ujar Rikardo Hutajulu.

Pihak Dinas Pendidikan Samosir bahkan sempat mengajak Dinas Kesehatan untuk melakukan mediasi dan menjelaskan kepada warga  bahwa virus HIV /AIDS hanya menular melalui transfusi darah, jarum suntik serta hubungan seksual.

“Walaupun kami telah melakukan mediasi tersebut, namun warga dan orangtua tetap menolak anak tersebut bersekolah di tempat itu,” tambah Rikardo.

Sebelumnya BK adalah pasien dan tinggal di RS. HKBP Nainggolan bersama 5 pasien lain yang juga penderita HIV /AIDS. Dan dirumah sakit ini BK tidak didampingi orangtuanya dan hanya didampingi perawat dan tim peduli anak penderita HIV /AIDS.

Saat ini,  kondisi BK semakin melemah dan telah dirujuk ke RS. Adam Malik Medan.

Hal itu dibenarkan Dr. Horas Rajagukguk, Sp.B ketika dikonfirmasi media pada Jumat, (5-10-2018). “Benar, BK sekarang sudah di rawat di RS. Adam Malik Medan. Sebelumnya kami pernah mengunjungi BK di RS. HKBP Nainggolan bersama tim Tahun Kesehatan Gereja HKBP,” ujarnya. (JS)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *