GENPPARI Menapaki Wisata Sejarah Negara Terkecil di Dunia, Vatikan

TVPOLRINews.com | Vatikan – Ruang lingkup dunia pariwisata sesungguhnya tidak terbatas. Cakupan sub – sub bidang kepariwisataan itu sangat luas. Mulai dari objek wisata alam, seni, budaya, kuliner, dan lain – lain. Vatikan memiliki banyak sejarah, meskipun negara ini merupakan negara terkecil di dunia, karena total luas wilayah hanya 0,44 km² atau sekitar setengahnya area Monas Jakarta.

Ketua Umum Gerakan Nasional Pecinta Pariwisata Indonesia (GENPPARI) Dede Farhan Aulawi yang berhasil dihubungi via sambungan telepon, Kamis (19/12) bersedia berbagi pengalaman ketika berkeliling di Vatikan.
Menurut Dede untuk menempuh Vatikan dari airport yang ada di Roma tidaklah sulit, karena sarana transportasi publik sudah memadai. Baik menggunakan bis atau kereta. Cukup menggunakan tourism map semua bisa dijangkau dengan mudah, ujar Dede.

Hosting Unlimited Indonesia

Tempat yang banyak dikunjungi di Vatikan adalah Basilika Santo Petrus. Vatikan berada di dalam wilayah kota Roma Italia dan dipimpin seorang Paus yang dikawal oleh tentara dari Swiss yang disebut Swiss Guard atau Garda Swiss sejak tahun 1506. Lalu untuk melindungi Paus dari serangan, sengaja dibangun tembok pembatas Vatikan.

Sepanjang jalan dari stasiun kereta menuju Gedung Basilika banyak ditemui pedakang kaki lima dan pedagang asongan. Jadi sedikit mirip di Indonesia. Ketika memasuki kawasan Basilika seperti pada umumnya turis yang datang, banyak melakukan pengambilan foto – foto.

Kemudian ketika kita ingin memasuki ke dalam gedung, harus melewati pos pemeriksaan terlebih dahulu, seperti pemeriksaan di bandara. Perlu diketahui bahwa  Basilica Santo Petrus merupakan bangunan gereja terbesar di dunia. Interior gereja sangat bagus dan  dinding dipenuhi pahatan serta lukisan indah. Selain itu terdapat banyak patung yang terbuat dari batu marmer.

Bagian bawah tanah Basilica Santo Petrus terdiri dari lorong-lorong panjang dengan lukisan klasik di sepanjang dinding. Selain beberapa kapel terdapat juga makam para tokoh umat  Katolik dan Paus.

Setelah keliling di bagian dalam, langsung keluar lagi untuk mengambil beberapa foto di sudut-sudut kota. Lelah berjalan menelusuri seluk beluk kehidupan masyarakat Vatikan, kita istirahat sejak diambang senja sambil mencicipi makanan di kursi – kursi kayu yang tersedia di pinggir jalan.
Selanjutnya kita naik kereta lagi untuk melihat keindahan salah satu pantai nya yang cukup terkenal. Namun karena kemacetan cukup parah, akhirnya niat berkunjung ke pantai diurungkan di tengah, mengingat langit juga sudah mulai gelap.

“Itulah sekilas pengalaman mengunjungi negara Vatikan dan kota di sekitarnya, dimana dipenuhi oleh aneka pedagang makanan, cindera mata  dan pakaian,” pungkas Dede mengakhiri. (dfa/mr)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *