Drs. RIVAI NASUTION MM, PESANTREN  MEMILIKI KOMITMEN DALAM MEMBINA UMAT

TVPOLRINews.com| Labusel – Drs. Rivai Nasution, MM memenuhi undangan KH. Azhari Pimpinan Pesantren Al-Hidayah Teluk Panji Kecamatan Kampung Rakyat, Kabupaten Labuhanbatu Selatan Minggu (14/7). Kedatangan Rivai yang didampingi beberapa pengurus PB IKLAS disambut hangat oleh KH. Azhari  selaku tuan rumah.

Dalam kesempatan itu banyak hal yang dibahas khususnya tentang pendidikan agama bagi generasi muda yang hari ini cukup mengkhawatirkan, “Bertemu dan bercengkrama dengan KH. Azhari sungguh luar biasa, akrab serta penuh kekeluargaan. Banyak yang menjadi topik diskusi khususnya tentang pentingnya pendidikan agama bagi generasi muda. Karena agama sumber pelita hidup,” ujar Rivai usai berkunjung ke pesantren Al-Hidayah Teluk Panji.

Hosting Unlimited Indonesia

Rivai juga mengatakan bahwa pesantren merupakan wadah pendidikan yang memiliki keikhlasan tersendiri dan berbeda dengan pendidikan lainnya. Karena di pesantren lebih memfokuskan pendidikan islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan lainnya yang mendukung program pesantren itu. Sehingga generasi muda dalam hal ini santri akan  mendapatkan pendidikan yang cukup. Apalagi saat diskusi tadi dengan KH. Azhari membahas seputar pendidikan islam bagi generasi muda. Beliau berharap agar pesantren lebih  diperhatikan pemerintah, apalagi menyangkut sarana dan prasarana. Karena hari ini Pesantren masih memiliki komitmen tegas untuk membina umat ke jalan yang benar sesuai dengan norma-norma agama. Apalagi dengan sistem mondok, maka para santri akan terbebas dari pengaruh luar yang dapat menyeret mereka kelembah maksiat, kata Rivai.

Pondok pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial dalam tatanan masyarakat yang tengah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang ditawarkan. Kehadirannya bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (Agent of social change) yang selalu melakukan pembebasan pada masyarakat dari segala keburukan moral, penindasan politik, kemiskinan ilmu pengetahuan dan bahkan dari kemiskinan ekonomi. (AN)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *