Ambruknya Jembatan Gido “Penderitaan Akhir Tahun”

TVPOLRINews.com | Nias – Proyek perbaikan jembatan Gido merupakan keuntungan bagi masyarakat Kepulauan Nias, justru Sengsara membawa nikmat. Jembatan darurat di Sungai Gido Sebua, Desa Hiliweto, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, hancur sejak tgl 19 Desember 2018, jembatan darurat yang dibangun rekanan PT Satu Tiga Mandiri telah ambruk saat dilintasi truk Fuso yang membawa material proyek pembangunan jembatan Sungai Gido, beberapa waktu lalu.

Akses penghubung Kabuapten Nias dan Kabupaten Nias Selatan (Nisel). Terkena dampak putusnya jembatan Gido, Kabupaten Nias ada 4 Kecamatan yakni Kecamatan Sogaeadu, Idano Gawo, Ulugawo dan Bawolato. Kemudian Kabupaten Nisel ada 33 Kecamatan.

Hosting Unlimited Indonesia

Ekonomi masyarakat bergejolak di Kabupaten Nias Selatan (Nisel) dan empat Kecamatan di Kabupaten Nias. Harga bahan pokok mengalami kenaikan drastis, BBM (bahan bakar minyak) meroket, ongkos transportasi naik berkali-lipat.

Pantauan dilapangan sekitar jam 4 sore, ratusan masyarakat melintasi Sungai Gido Sebua, Jumat (28/12). Mereka terpaksa melintasi sungai, akibat jembatan alternatif ambruk, akses transportasi yang menghubungkan antara kecamatan di Kabupaten Nias dan Kabupaten Nisel putus total. Sementara, jembatan Sungai Gido Sebua hingga kini masih dalam proses pengerjaan.

Masyarakat yang melintasi ke Gunungsitoli dan sebaliknya harus melintasi Sungai Gido Sebua dengan berjalan kaki. Sementara, untuk sepeda motor harus menggunakan tenaga warga sekitar yang menawarkan jasa penyeberangan justru mereka yang menikmati. Untuk itu, setiap pengendara harus berogoh kocek biaya penyeberangan sebesar Rp20 ribu per unit Sepeda motor. Warga sekitar menjadi kuli panggul, mereka menawarkan jasanya untuk memikul barang sembako  untuk diseberangkan.

Ironisnya lagi wilayah Kabupaten Nisel  harga eceran bensin (premium) meroket sejak ambruknya jembatan Sungai Gido Sebua, hingga membawa penderitaan di akhir tahun. Masyarakat yang pulang kampung halaman untuk merayakan Natal dan Tahun Baru harus menyisihlan koceknya untuk menambah biaya perjalanan.

Belum lagi saat mengisi BBM di SPBU antriannya luar biasa dan beberapa jam kemudian BBMnya habis. Tidak lama kemudian menjamurnya penjual BBM eceran mereka menggunakan kesempatan untuk meraup keuntungan lebih besar, naik menjadi Rp 20 ribu/per liter. Dimana, sebelumnya harga Rp7 ribu per liter. Sedangkan, harga-harga bahan pokok naik bervariasi dari Rp 6 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.

Salah seorang masyarakat Juni Sarumaha (23) yang melewati jembatan ini berharap agar pemerintah pusat dan instansi terkait segera memperbaiki jembatan alternatif tersebut. Sebab jika tidak, maka masyarakat akan semakin terbebani dalam merayakan Tahun Baru.

Tambah Sarumaha, masyarakat sangat menderita karena ambruknya jembatan, harga bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) di dua wilayah itu naik drastis. Kemudian, warga yang ingin memakai jasa transportasi umum harus dua kali sambung. Belum lagi mobil yang ingin ke Nisel jalan alternatif kearah Nias Barat yang jalannya bergelombang dengan menempuh jarak 5,5 jam, klau melalui Gido hanya 2,5 jam menuju Kecamatan Telukdalam Kabupaten Nisel. (YD)

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *